Home » , , » Kisah Hamzah Pemimpin Syuhada

Kisah Hamzah Pemimpin Syuhada

Written By RACHMAT SR on Selasa, 06 Maret 2012 | Selasa, Maret 06, 2012

1.Pemimpin Para Syuhada'

2. Kisah Masuk Islam

3. Lamaran Hamzah kepada Khadijah untuk Rasulullah saw.

Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. (1)

Hamzah bin Abdul Muthalib r.a.
Pemimpin Para Syuhada’ dan Paman Nabi saw.


Siapakah dia?

Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy, keturunan asli suku Quraisy dari keluarga Bani Hasyim. Hamzah adalah seorang pahlawan medan pertempuran, singa Allah dan Rasul-Nya saw. Selain itu, ia juga merupakan paman Nabi saw dan saudara susunya, karena keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah maulah(1) Abu Lahab. Hamzah biasa dipanggil dengan nama Abu Umarah dan Abu Ya’la.

Ibunda Hamzah bernama Halah binti Uhaib bin Abdi Manaf, putri dari paman Sayidah Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf, putrid dari paman Sayyidah Aminah binti Abdi Manaf, ibunda Rasulullah saw.

Hamzah r.a. memiliki beberapa orang anak dari tiga orang istri, yaitu Ya’la dan Amir (ibu mereka adalah putrid Mallah bin Ubadah dari kaum Anshar), dan Umarah (ibunya adalah Khaulah binti Qais bin Qahdin dari kaum anshar), serta yang terakhir adalah Umamah (ibunya adalah Salma binti Umais saudara perempuan dari Asma’ binti Umais) Umamahh inilah yang diperebutkan oleh Ali bin Abi Thalib r.a., Ja’far bin Abi Thalib r.a., dan Zaid binHaritsah r.a. Masing-masing dari mereka ingin mengambil Umamah untuk dirawat di rumah mereka.

Ketika Nabi Muhammad saw. Dan sahabat yang bersamanya keluar dari Mekah, setelah pelaksanaan ibadah Umrah pada tahun ketujuh Hijriah, tepatnya satu tahun sebelum penaklukan kota Mekah, Umamah putrid Hamzah r.a. ingin ikut bersama Nabi seraya memanggilnya “pamanku…pamanku…!”

Lantas, Ali bin Abi Thalib r.a. segera menghampiri Umamah dan memegang tangannya, kemudian berkata pada istrinya, Fatimah binti Rasulullah saw.,”Ambillah putri pamanmu ini!” Kemudian Fatimah membawanya.

Dari peristiwa di atas, terjadilah perselisihan antara Ali bin Abi Thalib r.a., Jafar bin Thalib r.a., dan Zaid bin Haritsah r.a..
Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,”Aku yang lebih berhak mengasuh Umamah, karena dia adalah anak dari pamanku.”

Ja’far bin Abi Thalib menjawab,”Dia adalah putri pamanku dan bibinya berada di bawah tanggunganku(2), maka akulah yang lebih berhak.
Zaid bin Haritsah ikut menimpali dengan perkataannya, “Dia itu adalah anak perempuan saudaraku, maka aku juga berhak mengambilnya”(3)

Melihat perselisihan tersebut, Nabi memutuskan bahwa Umamah lebih layak tinggal bersama bibinya, seraya bersabda,

“Posisi seorang bibi itu sama kedudukannya dengan ibu.”

Pada lain kesempatan, Ali pernah bertanya kepada Rasulullah saw., “Mengapa engkau tidak menikahi putrid Hamzah?”nabi menjawab,

“Putri Hamzah itu adalah anak perempuan saudara susuku ”.(4)


(1)Maulah:Budak atau pengikut
(2)Maksudnya:Istrinya (Asma binti Umais r.a.)
(3)Karena Rasulullah telah menjadikan hubungan saudara antara Hamzah r.a. dan Zaid r.a..
(4)Hr Imam Muslim, dalam kitab nikah, hadits 5100

Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. (2)

Lamaran Hamzah kepada Khadijah untuk Rasulullah saw.

Khadijah binti Khuwailid adalah seorang pengusaha wanita yang memiliki kemuliaan dan kekayaan. Khadijah mempekerjakan para kaum lelaki dengan system bagi hasil. Ketika Khadijah mendengar berita tentang kejujuran, kesungguhan Nabi dalam mengemban amanah, serta kemuliaan budi pekertinya, Khadijah langsung meminta Nabi untuk pergi ke negeri Syam dengan membawa barang dagangannya,dengan ditemani pembantunya yang bernama Maysarah. Selain itu, ia juga memberikan Rasulullah saw. Kepercayaan yang lebih dibandingkan kepercayaannya kepada pekerja lainnya.

Rasulullah saw. Menerima tawaran Khadijah dan pergi berdagang dengan barang dagangan tersebut bersama Maysarah, hingga sampai di negeri Syam. Sesampainya di sana, Rasulullah berteduh di bawah pohon yang dekat dengan tempat bertapa para pendeta. Ketika Rasulullah sedang beristirahat, seorang pendeta menghampiri Maysarah dan bertanya kepadanya,”Siapa laki-laki yang sedang berteduh di bawah pohon itu?” Maysarah menjawab,”Laki-laki itu adalah orang Quraisy dari tanah Haram.” Mendengar jawaban tersebut , pendeta itu langsung berkata kepada Maysarah, ”Lelaki yang sedang berteduh di bawah pohon itu adalah seorang Nabi.”

Di negeri Syam, Rasulullah saw. menjual dagangan yang beliau bawa dan juga membeli barang-barang yang beliau inginkan.

Ketika Rasulullah saw. kembali ke kota Mekah, beliau langsung menghadap Khadijah r.a. dengan membawa keuntungan yang berlipat ganda. Tanpa sepengetahuan Rassulullah, Maysarah menceritakan kepada perkataan seorang pendeta tentang Rasulullah dan kejadian-kejadian luar biasa yang ia lihat pada diri Rasulullah saw.

Khadijah r.a. adalah seorang wanita yang tegas, mulia, cerdas, serta memiliki sifat-sifat mulia lainnya. Ketika Maysarah menceritakan kepadanya tentang berbagai kelebihan yang ada pada diri Rasulullah seraya berkata kepadanya,”Sepupuku…!, sungguh aku suka kepadamu karena sifat kekerabatanmu, kemuliaanmu di antara kaummu, sifat amanah , keluhuran budi pekerti dan kejujuran bicaramu”. Khadijah mengungkapkan rasa kagumnya kepada Rasulullah saw. Padahal ia adalah seorang wanita Quraisy yang paling tinggi kedudukannya, baik dari segi keturunan maupun kekayaan. Sebenarnya banyak sekali lelaki dari kaum Quraisyy yang ingin melamar Khadijah.

Setelah Khadijah mengungkapkan isi hatinya kepada Rasulullah, Rasulullah langsung menyampaikan hal tersebut kepada paman-pamannya. Walaupun sebagai seorang paman, Hamzah r.a. mengenal Muhammad bukan hanya sebagai keponakan saja, tetapi juga ia mengenal Muhammad sebagai seorang saudara dan teman dekat. Karena Rasulullah dan Hamzah merupakan satu generasi dan umur mereka berdekatan sehingga mereka tumbuh, bermain dan menjalin persaudaraan dalam kebersamaan.

Dengan kedekatannya itu, Hamzah r.a. langsung merespon apa yang Rasulullah ungkapkan dan langsung menemaninya untuk mendatangi Khuwailid bin Asad dengan maksud meminang putrinya untuk Rasulullah saw. Dengan lamaran tersebut Rasul menikahi Khadijah.


Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. (3)

Kisah Masuk Islam Hamzah r.a.

Pada suatu hari , Abu Jahal Abu al-Hakam Amr bin Hisyam bertemu dengan Rasulullah saw. di dekat bukit Shafa. Karena kebenciannya terhadap Islam, Abu Jahal menyakiti dan mencaci Rasulullah saw.. Selain itu, ia juga menghina dan merendahkan Islam serta ajarannya. Namun, Rasulullah hanya diam dan tidak menghiraukannya.

Melihat tidak ada respon dari Rasulullah, Abu Jahal memukul kepala beliau dengan batu dan melukainya hingga kepalanya mengalirkan darah. Kemudian, Abu Jahal pergi meninggalkan Rasulullah saw. Menuju tempat perkumpulan kaum Quraisy di dekat Ka’bah dan duduk bersama mereka.

Di saat yang bersamaan, seorang budak milik Abdullah bin Jad’an yang tinggal di bukit Shafa mendengar dan melihat kejadian tersebut. Kemudian, ketika ia menjumpai Hamzah bin Abdul Muthalib r.a. yang pada saat itu masih musyrik seperti kaumnya, kebetulan ia baru saja kembali dari berburu dan masih membawa anak panah. Budak itu langsung menceritakan kepada Hamzah tentang kejadian yang ia lihat dan juga perlakuan buruk Abu Jahal terhadap Rasulullah saw..

Mendengar berita itu, Hamzah r.a., yang pada saat itu merupakan seorang pemuda terkuat dan paling tangguh di kalangan Quraisy, sangat marah.
Ia langsung pergi mengejar Abu Jahal. Tidak ada seoang pun yang diincarnya kecuali Abu Jahal, dan jika saja ia bertemu Abu Jahal maka ia akan langsung menghajarnya.

Ketika Hamzah memasuki Masjidil Haram, ia melihat Abu Jahal sedang duduk ditengah-tengah kaumnya. Lantas, dengan sigap, Hamzah segera berjalan menuju tempat Abu Jahal duduk, dan setelah ia berdiri tepat di hadapan Abu Jahal, ia mengambil anak panah dan menusuk Abu Jahal dengan anak panah tersebut hingga melukainya. Kemudian, Hamzah r.a. berkata, “Kenapa kamu mencaci Muhammad padahal aku berada dalam agamanya. Aku membenarkan apa yang ia katakan. Ingatlah, lawanlah aku jika kamu menganggap dirimu pemberani!!”

Melihat hal tersebut, beberapa orang dari Bani Makhzum, yaitu penduduk satu daerah dengan Abu Jahal menjadi marah, dan mereka mencoba menghentikan pukulan Hamzah untuk menolong Abu Jahal dari serangan Hamzah berikutnya, sambil berkata, “Hamzah! Kami menganggapmu telah keluar dari golongan kami.”

Mendengar perkataan itu, Hamzah r.a. segera menjawab,”Siapa saja yang melarangku, sungguh jelas balasannya nanti. Karena aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah dan apa yang ia katakan adalah kebenaran, maka aku tidak akan memusuhinya. Halangilah diriku jika kamu menganggap dirimu orang yang benar.”

Akhirnya, Abu Jahal berkata, ”Tinggalkan Abu Umarah! Memang aku telah menghina keponakannya dengan hinaan yang sangat buruk.
Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Meninggalkan Komentar Setelah Membaca :)
Rules!!
1. Berkomentar Harus Nyambung Dengan Artikel. Komentar Yang Tidak Jelas, Atau Hanya Bilang Nice Info Atau Sejenisnya. Akan Saya Hapus.
2. Gunakan Bahasa Yang Sopan! Jangan Gunakan Bahasa Kaskus. Gan, Ane, Juragan Atau Yang Lainnya. Lebih Baik Gunakan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar / Bahasa Inggris (Jika Bisa) :v
3. Saya Menerima Masukan Apapun Dari Anda. :)



 
Support : JC | PDIP KSA | PDP Jatim
Copyright © 2013. BLOG AL ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger