Home » , » Keihlasan Khalid dan Abu Ubaidah

Keihlasan Khalid dan Abu Ubaidah

Written By RACHMAT SR on Selasa, 06 Maret 2012 | Selasa, Maret 06, 2012

Keihlasan Khalid dan Abu Ubaidah


Cuaca panas terik di akhir bulan Jumadil Akhir. Pasukan Islam dibawah komando Khalid sedang menunggu-nunggu serangan pasukan Romawi. Saat itu Gregorius sudah bergabung dengan pasukan Islam setelah menyatakan syahadatnya.

Tiba-tiba terlihat dari kejauhan seorang utusan datang menuju tentara Islam. Kuda tunggangannya dipecut dengan laju seperti ada berita penting yang ingin disampaikan segera.

"seorang utusan dari Madinah yang bernama Munajamah bin zanim datang. Dia membawa surat dari khalifah." kata panglima Yazid.

Khalid bin Walid yang saat itu sedang memberi taklimat terakhir kepada para ketua pasukan Islam segera menangguhkan ucapannya.

"Biarkan utusan itu masuk. Pastilah ada hal penting dari khalifah yang mau disampaikan." katanya.
kemudian utusan itu masuk dan khalid menyambutnya

"selamat datang wahai Munajamah, utusan dari Khalifah. Pasti ada perkara penting yang mau disampaikan. Aku tidak sabar untuk mendengarnya." ujar Khalid

"Memang benar kata tuan. ada hal penting dari khalifah yang mau saya sampaikan. Karena persoalan ini sulit dan rahasia, lebih baik hanya Panglima saya yang mendengarnya." kata Munajamah
Khalid memerintahkan yang lain untuk keluar dari kemah.

"saya membawa dua berita sedih dan satu berita gembira. Berita mana yang perlu saya sampaikan dahulu?" tanya nya

"Dahulukan berita sedih supaya hati saya terobati oleh berita gembira"  jawab khalid

"Khalifah Abu Bakar meninggal dunia pada 23 Jumadil akhir 13 Hijriah. Jenazahnya sudah dikebumikan bersebelahan dengan makam Nabi Muhammad."

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun..." ucap khalid. dia merasa sedih. air matanya berlinang..

"Tangguhkan dahulu berita sedih yang kedua, sampaikan kepada saya berita gembira"
 ujar khalid

"Umar bin Khatab dilantik menjadi khalifah Islam yang kedua dengan disetujui oleh semua penduduk Islam di Makkah dan Madinah."  kata utusan itu

"Alhamdulillah"  ucap khalid.

"saya yakin Umar bin Khatab dapat menjalankan tugasnya dengan baik.

Dia mampu meneruskan dasar pemerintahan yang diterapkan oleh Khalifah Abu Bakar"
"Boleh saya menyampaikan berita sedihnya?"  tanya munajamah
"silakan" khalid bin walid bersedia mendengarnya
Munajamah menatap wajah khalid sambil berkata,
"saya harap tuan tidak terkejut dengan berita yang ingin saya sampaikan ini.
Saya yakin tuan memiliki semangat yang kuat dan terbuka hati menerima kabar ini."
"Katakan saja karena saya ingin mendengarnya" balas khalid
"Umar bin Khattab selaku khalifah Islam memecatmu dari jabatan ketua panglima tentara Islam. Tempat tuan akan digantikan oleh panglima Abu Ubaidah (wakil khalid ketika itu).
Ini surat perintah dari khalifah dan saya diamanahkan menyampaikannya kepada tuan."
Khalid bin walid membuka surat itu dengan tenang lalu membacanya.
Wajahnya tidak menampakan perubahan
"Semua yang kita miliki di dunia ini hanya sementara. Kita harus ikhlas karena semua yang terjadi adalah dengan izin Allah. Karena itulah hati saya tidak marah atau sedih dengan keputusan khalifah Umar. Selain itu, dia salah seorang sahabat Nabi yang sudah dijamin masuk surga." kata Khalid bin Walid tenang

Subhanallah...

akhirnya mereka sepakat menjemput dan bertemu Abu Ubaidah. Abu ubaidah adalah sahabat Nabi yg shalih dan ikhlas. Dia menangis ketika mendengar khalifah Abu bakar meninggal. Terlebih ketika Umar bin Khatab dilantik menjadi khalifah, Abu Ubaidah menangis sekali lagi.
Kemudian ketika mengetahui Khalid bin Walid diberhentikan, dia terlihat semakin sedih. Setelah diberi tahu bahwa dia dilantik menjadi ketua panglima Islam untuk menggantikan Khalid, Abu Ubaidah menangis terisak-isak.
"Mengapa kamu menangis begini? apa tidak ada berita yang menggembirakan hatimu?" tanya khalid kepada Abu Ubaidah
"Bagaimana saya tidak sedih, kematian Khalifah abu Bakar adalah satu kehilangan besar, bukan saja kepada kita, tetapi kepada seluruh umat manusia" jawab Abu Ubaidah
"Mengapa tuan menangis ketika mendengar Umar bin Khatab dilantik menjadi khalifah?" tanya Munajamah
"Saya menangis karena gembira. Hanya Umar yang layak menggantikan Khalifah Abu Bakar. Pelantikan itu menjauhkan umat islam dari perpecahan perebutan jabatan khalifah" jawabnya
"Lalu mengapa engkau menangis ketika mengetahui saya dipecat oleh Umar?" tanya khalid
"Engkau berhati baja, berani, dan memiliki pengaruh di pasukan islam. Saya khawatir engkau menentang keputusan itu lalu meninggalkan medan perang. Akibatnya kita mengalami kekalahan karena hanya engkaulah yang layak membawa kemenangan." jelas Abu Ubaidah
"kemudian apakah pelantikanmu sebagai ketua panglima tidak menggembirakanmu?" tanya munajamah penasaran
"Saya malu menerima jabatan itu karena ada yang lebih layak dari saya di kalangan kita" jawab Abu ubaidah
kemudian Abu Ubaidah menyambung lagi, "saya teringat kata-katamu" Dia memandang Khalid bin Walid
"Jabatan bukanlah lambang kemegahan, tetapi tanggung jawab. Sekiranya tidak mampu ditunaikan, ia menjadi tanggung jawab di dunia dan akhirat. Saya merasa tidak layak memegang jabatan yang penting itu. Karena itulah saya menangis"
"Kita harus taat kepada perintah Umar, karena dia adalah khalifah" pesan khalid bin walid. "Dengan ini saya menyerahkan tugas sebagai ketua panglima tentara Islam kepada Panglima Abu Ubaidah bin Jarah"
"Saya menerima pelantikan ini sebagai amanah dari Allah, tetapi saya memiliki permintaan...." ujar Abu Ubaidah.
"Katakanlah, apa permintaanmu?" balas Khalid
"tentara kita sedang berhadapan dengan tentara Romawi. Biarkan mereka tetap berjuang. Saya minta berita ini tidak disampaikan kepada mereka sampai peperangan ini selesai"
"saya menyetujui permintaanmu" kata Khalid
"saya ada satu lagi permintaan" balas Abu Ubaidah
"teruskan.." balas khalid
"Walaupun saya jadi ketua penglima, tetapi engkau harus memimpin pasukan kita dalam menghadapi tentara Romawi. Engkau lebih berpengalaman. Teruskan siasatmu dan saya pasti mengikutinya" pinta abu Ubaidah
"Baiklah, saya setuju dengan permintaanmu. Saya berperang bukan karena Umar bin Khattab, tetapi karena Allah" Khalid tidak membantah
"terima kasih" ucap Abu Ubaidah dengan gembira. Hatinya lega karena Khalid tidak menolaknya
"Wahai munajamah, engkau datang kesini sebagai utusan bukan sebagai tentara. Karena itu saya perintahkan kamu untuk tidak mengikuti peperangan. Engkau duduk saja dalam kemah sampai peperangan selesai. Tangguhkan dulu kepulanganmu ke Madinah." kata khalid kepada Munajamah
Khalid bin walid dan abu Ubaidah keluar dari kemah seolah tidak terjadi apa-apa. Mereka sengaja merahasiakan percakapan tadi demi menjaga perasaan dan semangat pasukan Islam agar tidak luntur dan dapat berjuang sepenuh hati.
"Ya Allah, Khalid bin Walid memang selayaknya dikaruniakan gelar Saifullah (pedang Allah)" kata Panglima Abu Ubaidah dalam hati

sepotong kisah di Yarmuk

Suasana di Yarmuk pagi itu cukup menegangkan. Kedua pasukan sudah saling berhadapan. Pasukan itu adalah pasukan Islam 40.000 orang dibawah komando Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah sementara pasukan yang satunya adalah pasukan Romawi 240.000 orang dibawah pimpinan jenderal Theodore.
Tradisi sebelum perang dimulai adalah mengadakan pertandingan satu lawan satu.
"Majukan prajurit terbaikmu, kita adakan pertandingan satu lawan satu. Kalian akan merasakan kehebatan prajurit Roma yang terbaik!" tantang Theodore.
Saat itu pasukan Islam diwakilkan oleh Yazid untuk berhadapan dengan wakil dari Roma. Kemudian takdir Allah memenangkan Yazid.
Tiba-tiba muncul seorang prajurit yang maju membawa panji-panji pasukan Romawi. Prajurit berbaju zirah itu maju dengan gagah berani. Serentak bersamaan dengan majunya lelaki tersebut, seluruh pasukan Romawi terdengar gemuruh sorak dan tepuk tangan. Tampaknya lelaki tersebut adalah seorang prajurit andalan yang sangat dikagumi oleh para prajurit Romawi karena keberanian dan kehebatannya. Majunya lelaki tersebut membuat seluruh prajurit yakin bahwa kemenangan akan mereka raih.
"Nama saya Gregorius Theodorus, dalam bahasa arab disebut Jirjah Tudur. Saya belajar bahasa arab dari suku Ghasan. Saya ingin menantang Khalid bin Walid bertanding satu lawan satu!"
Khalid bin Walid segera turun dari kuda, "Wahai kepala besi, saya terima tantanganmu!"
Khalid bin Walid memanggilnya kepala besi karena kepala prajurit Romawi itu memakai penutup kepala dari besi, sedangkan ia hanya memakai sorban. Kemudian keduanya terlibat pertarungan sengit.
Ditengah denting pedang keduanya, tiba-tiba Gregorius bertanya kepada Khalid, "Bisakah kita berhenti sebentar?"
"Mengapa kita harus berhenti?" Khalid bertanya balik
"Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu Khalid, aku minta engkau menjawab pertanyaanku dengan jujur" pinta Gregorius dengan nada tegas
"silakan" balas khalid
"Benarkah engkau mendapat julukan sebagai pahlawan Pedang Allah?"
"Benar"
"Benarkah Tuhanmu turun dari langit dengan membawa sebilah pedang lalu diserahkannya kepadamu?"
"Itu kabar bohong" jawab khalid tegas
"Lalu mengapa saudara dijuluki pahlawan Pedang Allah?"
"Tuhan kami mengutus seorang Rasulullah Muhammad kepada negeri kami. Awalnya saya juga penentangnya, tetapi kemudian saya mendapat petunjuk dari Allah dan saya menjadi pendukungnya. Pada suatu hari Rasulullah bersabda tentang saya, katanya saya adalah sebilah pedang dari pedang-pedang Allah yang terhunus kepada kaum musyrik" jelas khalid
"Rasulullah berdoa kepada Allah SWT agar saya selalu diberi kemenangan ketika berperang untuk menegakkan agamanya. Karena itulah akhirnya saya dijuluki sebagai Pedang Allah."
"Apa yang engkau serukan kepada manusia semasa menjalankan tugas yang dibebankan kepadamu sebagai panglima perang, khalid?"
"saya menyeru agar mereka mau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah"
"Bagaimana jika mereka menolak seruanmu, khalid?" tanya Gregorius penuh rasa ingin tahu
"Mereka harus membayar jizyah/pajak"
(seperti kita ketahui, khalid menerapkan jizyah sebesar 1 dirham atau Rp 40.000 per bulan kepada warga persia. Saat itu warga persia yang tidak bersedia masuk islam pun bersuka cita, karena pajaknya jauh lebih kecil daripada Raja mereka terdahulu. Bahkan sepertinya jauh lebih kecil daripada pajak kita sekarang)
"Bagaimana jika mereka tidak mau juga?" lanjut Gregorius
"Kami akan memerangi mereka"
Melihat kedua panglima tersebut asyik bercakap ditengah medan laga, timbul tanda tanya diantara kedua pasukan. mereka menafsirkan menurut versinya masing-masing.
"Mungkin khalid sedang berunding dengan lawannya, kita biarkan saja mereka" gumam seorang prajurit
"Gregorius adalah seorang yang bijak, mungkin dia sedang bernegosiasi dengan Khalid" ujar Theodore. walau dihatinya tetap bertanya-tanya mengapa mereka berbicara lama sekali.
Mereka pun lanjut bertarung, walau sudah tidak seseru pertandingan sebelumnya.
kemudian sekali lagi pertandingan berhenti
"Khalid, saya ingin bertanya lagi"
"silakan" jawab khalid
"Jika hari ini ada orang menerima seruanmu dan memilih tawaran pertama yang engkau tawarkan tadi, bagaimana derajat orang itu di kalangan orang Islam?"
Khalid bin Walid terkejut. dia mulai paham mengapa Gregorius banyak bertanya. Khalid memuji Allah SWT dalam hatinya, sungguh hanya Allah-lah yang berkuasa untuk melembutkan hati hamba-Nya yang keras.
"Kedudukan setiap muslim itu sama. Islam tidak membedakan derajat seseorang berdasarkan kemuliaan, kehinaan, kemiskinan, atau kekayaan" jawab khalid
"Apakah orang yang baru memeluk Islam pada hari ini juga mendapat pahala dan kedudukan yang sama dengan saudara di sisi Tuhan?
"Gregorius, bahkan mereka lebih mulia dari kami, begitu menurut sabda Rasulullah" terang khalid
"Mengapa mereka yang baru masuk Islam lebih mulia, padahal kalian terlebih dahulu memeluk Islam?"
kemudian khalid menjawab,
"Kami pernah hidup bersama Rasulullah dan bisa melihat langsung kemuliaan dan mukjizat yang dimilikinya. Jadi, jika kami beriman kepada Allah itu wajar saja karena kami menyaksikan sendiri kebesarannya. Tetapi bagi mereka yang belum pernah bertemu Rasulullah, lalu menerima dan memeluk Islam dengan ikhlas, sungguh mereka lebih dimuliakan daripada kami"
"Benarkah yang kau katakan Khalid? Engkau tidak berbohong dan tidak sedang membujuk saya?" lanjut Gregorius.
Kemudian Gregosius berkata,
"Demi Tuhan, saya menyambut seruanmu Khalid, Asyhadualla ilaahaillallahu wa asyhadu anna muhammadarrasulullah... saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah..."
Allahu Akbar!

"Alhamdulillah. Gregorius saat ini engkau adalah saudara kami. Dan engkau tidak boleh kami bunuh" sambut khalid
keduanya saling bersalaman dan berpelukan. semua prajurit merasa aneh dengan kejadian tersebut. Mereka bertanya dalam hati apakah yang sebenarnya terjadi di tengah medan laga itu.
*dari buku khalid bin walid pedang allah yang terhunus

Suatu saat di camp pasukan Romawi

Perang Yarmuk baru saja usai dengan kemenangan gilang gemilang tentara Islam melawan Romawi. Saat itu tentara Islam berjumlah 40.000 orang dimana romawi berjumlah 240.000.
Sebelumnya kekuatan dunia ada pada dua Negara superpower, yakni Persia dan Romawi. Persia baru saja berhasil dibebaskan melalui panglima besar Islam, Khalid bin Walid
Maharaja Hercules (Heracles) menyambut kepulangan tentaranya dengan murka. Ia merasa sangat malu.
“Kalian adalah tentara yang tidak berguna! Bagaimana kalian bisa dikalahkan oleh tentara islam? Bukankah mereka seperti kamu juga, berasal dari golongan manusia?”
Marahnya tidak tertahankan. Kekalahan itu membuat dirinya malu. Hatinya sangat sakit ketika tentara Romawi kalah di tangan tentara Islam. Karena ia berpikir bahwa tentara Islam tidak memiliki kelebihan apapun. Tentara Islam tidak sebanding dengan tentaranya. Namun yang pasti adalah tentara Islam itu berhasil mengalahkan tentaranya!
“Benar Tuanku” Jawab Vartanius, pengganti Jenderal Theodore (adik dari Heracles) yang terbunuh oleh Khalid bin Walid ra. Dia terlihat sedikit takut dengan kemarahan yang terlihat jelas di wajah Maharaja Heracles.
“Pasukan mana yang lebih banyak diantara kalian?” Tanya Maharaja Hercules lagi. Kemarahannya semakin memuncak.
“Jumlah kami lebih banyak dari mereka” jawab Vartanius sambil menundukan kepalanya. Dia benar-benar takut untuk menyatakan kebenaran. Namun itulah kenyataannya. Dia sendiri heran bagaimana tentara Islam yang sedikit itu mampu mengalahkan mereka yang jumlahnya lebih banyak.
“Tentara Islam benar-benar hebat!” Dalam diam Vartanius mengakui kebenaran itu.
“Senjata siapa yang lebih hebat dan banyak?” Maharaja Hercules terus bertanya. Perasaan kesalnya memuncak, apalagi setelah mengetahui jumlah tentaranya lebih besar, berhasil dikalahkan oleh tentara Islam yang lebih kecil jumlahnya.
“Senjata kami lebih banyak dan hebat” Jawab Vartanius. Saat itu bahkan Romawi menurunkan pasukan gajahnya.
Suaranya yang bergetar ketakutan jelas terdengar. Dia benar-benar takut apa yang dikatakannya bias menambah kemarahan Maharaja Hercules
“Bagaimana kalian bisa kalah?” teriak Maharaja Hercules
Suaranya bergema. Tubuh panglima Vartanius terdorong ke belakang. Hatinya seperti mau luruh!
Vartanius hanya diam. Dia tidak berani lagi membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Maharaja Hercules. Kedua bibirnya bagai terkunci rapat. Tubuhnya mulai dibanjiri keringat.
“Adikku, panglima Theodore turut terbunuh. Tentara kita banyak yang mati. Kita dikalahkan tentara Islam. Mengapa semua ini bisa terjadi?” Tanya Maharaja Hercules lagi.
Perasaan kecewa mulai menyelinap ketika teringat adiknya yang mati. Hatinya juga sakit ketika mengenang kekalahan yang mengorbankan banyak tentaranya. Dia mengeluh dengan kuat.
“Mengapa semua ini terjadi?” jeritnya lagi
Tidak ada seorang pun yang berani menjawab pertanyaannya. Panglima Vartanius juga tidak mampu memberikan alasan. Untuk menatap wajah Maharaja Hercules pun ia tidak berani karena kemarahan yang terlihat di wajahnya.

Tiba-tiba berdiri seorang tentara yang paling tua
“Tuanku, tentara kita berperang dengan suatu kaum yang berpuasa pada siang hari dan beramal ibadah pada waktu malam. Mereka berpegang teguh pada janji, saling berkasih sayang sesame mereka bagaikan saudara. Mereka senantiasa mengerjakan kebaikan dan tidak melakukan kemungkaran.” Dia berkata dengan jujur
“Sedangkan tentara kita suka minum arak, melakukan zina, selalu ingkar janji, suka berbuat jahat, dan melakukan kezaliman. Karena itulah kita kalah” Dia menguatkan diri agar dapat mengatakan hal itu di hadapan Maharaja Hercules. Walaupun sedikit gemetar karena ketakutan, tetapi dia dapat menjelaskan keadaan yang sebenarnya dengan baik.
Maharaja Hercules diam. Dalam hatinya, dia mengakui kebenaran kata-kata lelaki tua itu.
“Dari awal saya ingin berdamai, tetapi kalian bersikeras ingin berperang dengan mereka! Inilah balasannya!” Begitu kata Maharaja Hercules
Referensi : Khalid bin Walid, pedang Allah yang terhunus karya Abdul latip Talib.


Share this article :

0 komentar:

Poskan Komentar

Budayakan Meninggalkan Komentar Setelah Membaca :)
Rules!!
1. Berkomentar Harus Nyambung Dengan Artikel. Komentar Yang Tidak Jelas, Atau Hanya Bilang Nice Info Atau Sejenisnya. Akan Saya Hapus.
2. Gunakan Bahasa Yang Sopan! Jangan Gunakan Bahasa Kaskus. Gan, Ane, Juragan Atau Yang Lainnya. Lebih Baik Gunakan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar / Bahasa Inggris (Jika Bisa) :v
3. Saya Menerima Masukan Apapun Dari Anda. :)



 
Support : JC | PDIP KSA | PDP Jatim
Copyright © 2013. BLOG AL ISLAM - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Modified by CaraGampang.Com
Proudly powered by Blogger